Latar Belakang
Anak-anak dari berbagai usia berfikir sesuai dengan tingkat usianya. Matematika adalah subjek ideal yang mampu mengembangkan proses berfikir anak dimulai dari usia dini, usia pendidikan kelas awal (pendidikan dasar), pendidikan menengah, pendidikan lajutan dan bahkan sampai mereka berada di bangku perkuliahan. Hal ini diberikan untuk mengetahui dan memakai prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari baik itu mengenai perhitungan, pengerjaan soal, pemecahan masalah kehidupan di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR).
Pengembangan matematika realistic di dasarkan pada pandangan Freudenthal terhadap matematika (freudenthal, 1991) yang berpandangan bahwa matematika harus dikaitkan dengan hal yang nyata bagi murid. Matematika harus dipandang sebagai suatu aktivitas manusia.
Pertama untuk mulai dari fenomena atau kejadian yang real bagi murid maka pinsip Freudenthal didactical phenomenology bahwa belajar harus mulai dari suatu masalah konstekstual yang pada akhinya memunculkan konsep matematika yang dipelajari harus digunakan. Kedua, dengan menggunakan prinsip guided reinvention melalui progressive mathematization, murid digiring secara didaktik dan efisien dari suatu level berpikir ke level berikutnya melalui matematisasi. Kedua pinsip ini dan prinsip self developed madels (gravemeijer, 1994) dioperasionalisasikan kedalam lima krakteristik dari realistic mathematic education (de lange, 1987; gavemeijer, 1994) sebagai berikut: (1) menggunakan masalah konstekstual, (2) menggunakan model, (3) menggunakan kontribusi murid, (4) interaktivitas, dan (5) terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya yang mengikuti perkuliahan mata kuliah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) juga mendapatkan suatu pengetahuan baru khususnya di bidang PMRI yang mana selama ini para mahasiswa yang mayoritas adalah guru belum pernah tahu atau belum mengerti apa itu PMRI. Salah satu tugas perkuliahan PMRI ini adalah observasi lapangan tentang pelaksanaan PMRI di sekolah-sekolah percontohan. Untuk itu mahasiswa ditugaskan secara berkelompok dalam mengobservasi persiapan maupun pelaksanaan metode belajar matematika dengan pendekatan PMRI di sekolah-sekolah percontohan yang telah ditunjuk. Dalam hal ini sekolah yang ditunjuk ada empat sekolah, dan yang menjadi salah satunya adalah SD Negeri 117 Palembang yang berada di daerah Perumnas Sako, yang juga menjadi sekolah yang kami jadikan sebagai tempat observasi.
Khusus untuk anak-anak atau siswa pendidikan kelas awal atau pendidikan dasar (SD), matematika sangat berguna sekali bagi mereka untuk mengembangkan proses berfikir mereka mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada hal-hal yang rumit. Tahapan dimana anak-anak atau siswa Sekolah Dasar sudah bisa mempraktekkan matematika dalam kehidupan sehari-hari tentulah ditunjang oleh berbagai cara serta metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak Sekolah Dasar. Hal ini sesuai dengan tingkat perkembangan anak kelas awal-awal SD yang cenderung bermain sambil belajar.
Salah satu pokok bahasan pembelajaran matematika di SD kelas II adalah tentang macam-macam bidang datar.
Hasil Observasi
- Observasi dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, tanggal 16 Maret 2009 dan tanggal 20 Maret 2009.
- Pertemuan pertama baru melihat keadaan siswa di SD Negeri 117 Palembang secara umum.
- Pertemuan kedua melihat guru kegiatan proses belajar matematika di kelas 2
- Observasi ini dilakukan pada pokok bahasan bangun datar dengan indikator menentukan jenis-jenis bangun datar.
- Guru menjelaskan pokok bahasan yang akan dipelajari dan apa yang harus dikerjakan oleh siswa dan siswa bekerja secara individual. Guru membagikan beberapa jenis bidang datar. Guru menempelkan tiga buah gambar hewan di papan tulis. Kemudian siswa disuruh menempelkan bidang-bidang datar yang telah dibagikan pada kertas kosong, sehingga hasil tempelan bidang datar pada kertas kosong tersebut menyerupai gambar hewan yang ada di papan tulis. Siswa hanya memilih dua buah gambar hewan. Setelah terbentuk gambar hewan guru memberikan pertanyaan sebagai berikut:
- ada berapa segitiga yang sama besar
- ada berapa segitiga yang sama kecil
- ada berapa jajaran genjang
- ada berapa persegi
Pembahasan
Konteks PMRI yang digunakan guru dalam PBM di mana?
Dari hasil observasi, tahapan dimana anak-anak atau siswa sekolah dasar sudah bisa mempraktekan dalam kehidupan sehar-hari sudah terlihat. Dimana anak-anak dapat menggambar binatang-binatang yang sudah mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bangun-bangun datar yang sudah tersedia.
Anak sudah terlibat aktif dalam proses pembelajaran matematika di dalam kelas. Siswa melakukan semua aktivitas pembelajaran. Anak menyukai suasana belajar yang tidak hanya berpusat pada guru, hal ini terlihat dengan keaktifan siswa untuk menunjukkan hasil kerja mereka di papan tulis.
Dalam hal ini proses pembelajaran yang dilaksanakan khususnya pada pokok bahasan bangun-bangun datar sudah menunjukkan karakteristik dari PMRI.
Pembahasan
Konteks PMRI yang digunakan guru dalam PBM di mana?
Dari hasil observasi, tahapan dimana anak-anak atau siswa sekolah dasar sudah bisa mempraktekan dalam kehidupan sehar-hari sudah terlihat. Dimana anak-anak dapat menggambar binatang-binatang yang sudah mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bangun-bangun datar yang sudah tersedia.
Anak sudah terlibat aktif dalam proses pembelajaran matematika di dalam kelas. Siswa melakukan semua aktivitas pembelajaran. Anak menyukai suasana belajar yang tidak hanya berpusat pada guru, hal ini terlihat dengan keaktifan siswa untuk menunjukkan hasil kerja mereka di papan tulis.
Dalam hal ini proses pembelajaran yang dilaksanakan khususnya pada pokok bahasan bangun-bangun datar sudah menunjukkan karakteristik dari PMRI.
eefbandung berkata,
Mei 17, 2010 pada 4:28 am
apakah ada secara lengkapnya. mohon kirimannya.trima kasih